Mengenal RIBA dalam praktek Muamalah Properti Syariah

Gambar ini memiliki atribut alt kosong; nama filenya adalah bagaimana-akibat-hidup-dalam-riba.jpg

“Kamu hidup di dalam sebuah negeri dimana RIBA tersebar luas. Karena itu, jika salah seorang berhutang kepadamu dan memberikan sekeranjang rumput atau gandum atau jerami, janganlah kamu terima, karena itu adalah RIBA
(HR Bukhari)

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda : “Jika salah seorang diantara kalian memberi hutang (qardh), dan si pengutang menawarkan kepada makanan, maka janganlah kamu menerimanya. Dan jika penghutang menawarkan tunggangan, janganlah ia menerimanya, kecuali demikian itu sudah biasa terjadi di antara keduanya sebelum utang piutang itu.”
(HR Baihaqi)

Gambar ini memiliki atribut alt kosong; nama filenya adalah bagaimana-memahami-dan-akibat-hutang-riba.jpg

“… orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah para penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (Al-Baqarah: 275)

Gambar ini memiliki atribut alt kosong; nama filenya adalah ancaman-bagi-yang-mengulangi-riba.jpg

Jika mengulangi transaksi RIBA
Padahal SUDAH TAHU bahwa riba itu HARAM hukumnya
Tempat kembalinya adalah NERAKA

Dahulu RIBA HARAM, sekarang Riba Boleh
Boleh? Sebatas APA?
“Sebatas Anda mampu menahan panasnya API NERAKA”

Gambar ini memiliki atribut alt kosong; nama filenya adalah apakah-dahulu-riba-haram-sekarang-riba-boleh.jpeg
Gambar ini memiliki atribut alt kosong; nama filenya adalah mengerti-arti-azab-riba-kepada-penduduk.jpg

Apabila perbuatan ZINA dan RIBA telah merajalela di suatu negeri, berarti penduduknya telah mengizinkan turunnya ADZAB Allah atas diri mereka.”

Gambar ini memiliki atribut alt kosong; nama filenya adalah developer-perumahan-syariah-perang-terhadap-pelaku-riba.jpeg

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau bersabda, “Jauhilah tujuh dosa yang membinasakan.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apa saja itu?” Beliau menjawab, “Syirik kepada Allah, melakukan sihir, membunuh jiwa yang diharamkan Allah untuk dibunuh kecuali dengan alasan yang benar, memakan riba, memakan harta anak yatim, melarikan diri dari peperangan, dan menuduh berzina wanita yang suci mukminah yang tidak tahu menahu.” (HR Bukhari – Muslim)

Gambar ini memiliki atribut alt kosong; nama filenya adalah jangan-bermain-main-riba.jpeg
Gambar ini memiliki atribut alt kosong; nama filenya adalah jangan-terlibat-riba.jpg
Gambar ini memiliki atribut alt kosong; nama filenya adalah memahami-riba-adalah-harta-paling-buruk.jpeg

وَنَادَىٰٓ أَصْحَٰبُ ٱلْجَنَّةِ أَصْحَٰبَ ٱلنَّارِ أَن قَدْ وَجَدْنَا مَا وَعَدَنَا رَبُّنَا حَقًّۭا فَهَلْ وَجَدتُّم مَّا وَعَدَ رَبُّكُمْ حَقًّۭا ۖ قَالُوا۟ نَعَمْ ۚ فَأَذَّنَ مُؤَذِّنٌۢ بَيْنَهُمْ أَن لَّعْنَةُ ٱللَّهِ عَلَى ٱلظَّٰلِمِينَ

Dan penghuni-penghuni surga berseru kepada penghuni-penghuni neraka (dengan mengatakan): “Sesungguhnya kami dengan sebenarnya telah memperoleh apa yang Tuhan kami menjanjikannya kepada kami. Maka apakah kamu telah memperoleh dengan sebenarnya apa (azab) yang Tuhan kamu menjanjikannya (kepadamu)?” Mereka (penduduk neraka) menjawab: “Betul”. Kemudian seorang penyeru (malaikat) mengumumkan di antara kedua golongan itu: “Kutukan Allah ditimpakan kepada orang-orang yang lalim,

Gambar ini memiliki atribut alt kosong; nama filenya adalah memahami-suatu-hari-nanti-para-pelaku-riba-akan-mengangkat-pandangan.jpeg
Gambar ini memiliki atribut alt kosong; nama filenya adalah pengertian-kamuflase-praktik-riba-dibilang-syariah.jpeg
Gambar ini memiliki atribut alt kosong; nama filenya adalah rumah-syariah-adalah-solusi-riba-adalah-bencana.jpeg
Gambar ini memiliki atribut alt kosong; nama filenya adalah bagaimana-memberikan-penjelasan-tentang-riba-kerasukan-syetan.jpg
Gambar ini memiliki atribut alt kosong; nama filenya adalah belajar-tentang-riba-nasiah.jpg
Gambar ini memiliki atribut alt kosong; nama filenya adalah masyarakat-harus-paham-riba-ngeri-banget.jpg
Gambar ini memiliki atribut alt kosong; nama filenya adalah mengetahui-lebih-jelas-dosa-riba-lebih-besar-dari-dosa-zina.jpg
Gambar ini memiliki atribut alt kosong; nama filenya adalah paham-arti-riba-dan-kemiskinan.jpg
Gambar ini memiliki atribut alt kosong; nama filenya adalah pengertian-riba-qardh.jpg

.

Gambar ini memiliki atribut alt kosong; nama filenya adalah yuk-memahami-riba-dalam-surat-al-baqarah.jpg

ٱلَّذِينَ يَأْكُلُونَ ٱلرِّبَوٰا۟ لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ ٱلَّذِى يَتَخَبَّطُهُ ٱلشَّيْطَٰنُ مِنَ ٱلْمَسِّ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوٓا۟ إِنَّمَا ٱلْبَيْعُ مِثْلُ ٱلرِّبَوٰا۟ ۗ وَأَحَلَّ ٱللَّهُ ٱلْبَيْعَ وَحَرَّمَ ٱلرِّبَوٰا۟ ۚ فَمَن جَآءَهُۥ مَوْعِظَةٌۭ مِّن رَّبِّهِۦ فَٱنتَهَىٰ فَلَهُۥ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُۥٓ إِلَى ٱللَّهِ ۖ وَمَنْ عَادَ فَأُو۟لَٰٓئِكَ أَصْحَٰبُ ٱلنَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَٰلِدُونَ

Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.

Allah Swt telah memberikan manusia berupa akal. Akal digunakan untuk mengenali fakta dan obyek. Kemudian mengaitkannya dengan dalil yang ada dalam Quran dan Sunnah. Ketika dalil dari as-syari’ (pembuat hukum) membolehkan maka aktifitas bisa dilanjutkan. Sementara ketika as-syari’ mengharamkan, maka aktifitas diberhentikan.

Gambar ini memiliki atribut alt kosong; nama filenya adalah bagaimana-memahami-riba-tujuh-hal-yang-membinasakan.jpg

Maka… “Tinggalkanlah tujuh hal yang membinasakan… (salah satunya adalah) memakan RIBA”
(HR. Bukhari dan Muslim)


Dan menurut istilah, al-Kayyisu diantaranya, dijelaskan dalam sebuah hadis :

الكيس من دان نفسه و عمل لما بعد الموت و العاجز من أتبع نفسه هواها و تمنى على الله الأماني

Orang yang cerdas itu ialah orang yang mampu mengendalikan nafsu dan beramal untuk kehidupan setelah mati. Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya dan berangan angan banyak kepada Allah. (Hadis riwayat Tirmidzi dari Syaddad bin Aus ra, didhoifkan oleh Syaikh al-Baany dalam kitab al-Jaami’us Shoogiyr wa ziyaadatuh juz III halaman 979)
Sedangkan menurut al-Quran surat Ali Imron ayat 191, orang yang cerdas ialah orang yang selalu berdzikir kepada Alloh swt , berfikir tentang penciptaan langit dan bumi, serta senantiasa berdoa dan sangat takut dengan adzabNya.

“Rasulullah SAW telah mengutuk bagi orang pembayar maupun penerima riba”. (HR. Aun Ibn Hanifah yang meriwayatkan dari ayahnya)

Rasulullah SAW melaknat pemakan riba, pembayar (pemberi) riba, juru tulis riba, dan saksi saksi riba. Beliau berkata, “mereka semua sama”. (HR. Muslim)

Gambar ini memiliki atribut alt kosong; nama filenya adalah ahsana-properti-syariah-cerdas-itu-jauhi-riba.jpg

الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ [آل عمران : 191]

(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”

Berkaitan dengan pembelian rumah tentu kita gunakan kecerdasan. Jangan sampai terjebak dalam ribawi. Sebab selain jatuh kepada dosa, kita juga akan mengalami kesusahan dalam hidup.

Rasulullah bersabda:

“Rasulullah mengutuk bagi orang pembayar maupun penerima riba.” (HR Aun Ibn Hanifah yang meriwayatkan dari ayahnya)

Rasulullah SAW melaknat pemakan riba, pembayar (pemberi) riba, juru tulis riba, dan saksi-saksi riba. Beliau berkata: “Mereka semua sama.” (HR Muslim)

ahsanapro webdesign


Tahun 2020, Saatnya Mudah Beli Rumah Tanpa Riba 

Rumah menjadi kebutuhan mendasar bagi setiap manusia. Rumah itu papan untuk tempat tinggal. Berteduh dari panas. Berlindung dari hujan. Tempat segala aktifitas manusia bersama keluarga tersayang. Kini, banyak cara mudah memiliki rumah. Apalagi ada penawaran membeli rumah dengan sistem syariah. Apa sih bedanya model pembelian di sistem syariah dengan yang biasa (konvensional)?

memanfaatkan-mudah-beli-rumah-tanpa-riba.jpeg

Tentu saja pembelian rumah syariah tanpa riba. Hal-hal yang tidak syar’i (sesuai Islam) ditinggalkan. Pihak penyedia rumah syariah, semisal Ahsana Property, akan membantu siapapun yang ingin segera memiliki hunian. Persyaratan pembeli pun sangat mudah:

  1. Dokumen berupa KTP, KK, dan Surat Nikah
  2. Menyiapkan uang muka
  3. Amanah dan saling menjaga kepercayaan
  4. Mampu melakukan pelunasan

Mengapa tanpa riba ?

Ya, karena pembiayaan tanpa melibatkan pihak Bank. Tak perlu BI Checking. Jadi calon buyer (cabuy) tanpa ribut dan ribet. Simpel dan mudah. Hal ini memastikan setiap akad pembelian rumah murni syariah. Sangat mudah dan membantu Anda.

Untuk kalangan Milenial anak muda, jangan ketinggalan. Inilah waktunya memiliki hunian. Pastikan #2020 Ganti Statusmu, punya rumah baru. Asyik kan? Coba sekarang mulai difikirkan untuk menatap masa depan yang lebih baik. Gunakan setiap pendapatanmu untuk bisa memiliki rumah syariah. Tak perlu ragu dan was-was. Banyak teman-teman seusiamu kini beraksi untuk meninggalkan sistem ribawi dan kehidupan tak Islami. Saatnya beralih ke kehidupan lebih berkah, plus miliki rumah syariah.



ahsanapro webdesign



ADA BUNGA BANK YANG HALAL, BERNARKAH?

Oleh: Ustadz Dwi Condrotriono

Bagi sebagian kaum muslimin yang masih BERKUBANG dengan bunga bank, tentu memiliki berbagai alasan. Keyakinan utama mereka adalah bahwa bunga bank itu TIDAK SAMA dengan riba. Riba itu hukumnya haram, sedangkan bunga bank itu halal. Apa argumennya?

ustadz-dwi-condro-triono.jpeg

Argumen yang paling populer adalah: riba yang diharamkan dalam Al-Qur’an adalah riba yang BERLIPAT GANDA, sedangkan bunga bank itu tidak berlipat ganda. Oleh karena itu, bunga yang wajar dan tidak menzalimi itu HALAL. Misalnya, bunga 1% atau 2% saja itu tidak haram. Apa argumennya?

Ternyata ada 2 argumen. PERTAMA. Pendapat ini didasarkan pada firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surat Al Baqarah: 275:
وَأَحَلَّ اللّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا
“Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba”.

Mereka berpendapat bahwa, dalam ayat di atas ditunjukkan bahwa الرِّبَا adalah lafadz yang UMUM. Kemudian dengan menggunakan kaidah ushul fiqih:
دَلِيْلُ الْعَامِ يَبْقَى عَلَى عُمُوْمِهِ مَا لَمْ يَرِدْ دَلِيْلُ التَّخْصِيْصِ
“Dalil umum tetap dalam keumumannya, selama tidak terdapat dalil yang mengkhususkan (mengecualikan keumumannya)”.

Pertanyaannya: apakah keumuman dalil di atas ada takhshis-nya? Menurut mereka, ada dalil yang mengecualikannya, yaitu Al-Qur’an Surat Ali ‘Imran: 130:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَأْكُلُوا الرِّبَا أَضْعَافاً مُضَاعَفَةً
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba yang berlipat ganda”.

Kesimpulannya, riba secara umum memang haram hukumnya, kemudian dikecualikan untuk riba yang BERLIPAT GANDA. Sehingga hanya riba yang berlipat ganda saja yang haram, sedangkan riba yang kecil prosentasenya tidak haram.

Bagaimana menjawab pendapat seperti ini? Pendapat ini tidak dapat diterima. Sebab, QS Ali ‘Imran: 130 tidak dapat dijadikan sebagai takhshis dari keumuman riba. Dalam ilmu ushul fiqih, dalil takhsis haruslah datang BELAKANGAN dari dalil umumnya. Faktanya, QS Ali ‘Imran: 130 turun lebih dahulu dari Al Baqarah: 275.

“KEDUA. Pendapatnya menggunakan istidlal yang berbeda dengan pendapat pertama. Pendapat yang kedua ini langsung didasarkan pada QS Ali ‘Imran: 130 sebagaimana ayat di atas, yaitu:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَأْكُلُوا الرِّبَا أَضْعَافاً مُضَاعَفَةً
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba yang berlipat ganda”.

Dari ayat ini, kemudian langsung diambil mafhum mukhalafah-nya (pemahaman yang sebaliknya). Sehingga dapat difahami, “janganlah kamu memakan riba yang berlipat ganda”, maka pemahaman yang sebaliknya adalah bahwa riba yang tidak berlipat ganda, atau riba yang kecil hukumnya boleh diambil.

Nah, bagaimana kita menjawab pendapat ini? Pendapat itu tidak dapat dibenarkan, karena telah mengambil mafhum mukhalafah (pemahaman sebaliknya) secara TIDAK SAH menurut ilmu ushul fiqih.

Dalam ilmu ushul fiqih, mafhum mukhalafah tidak sah, jika bertentangan dengan nash. Apa contohnya? Contohnya adalah, ada ayat yang melarang orang tua membunuh anaknya karena TAKUT MIKSIN, yaitu dalam QS Al-Isra’: 31.
وَلاَ تَقْتُلُواْ أَوْلادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلاقٍ
“Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut miskin”.

Jika ayat di atas langsung diambil mafhum mukhalafah-nya, maka maknanya: boleh membunuh anaknya, jika TIDAK TAKUT MISKIN. Misalnya, jika orang tua jengkel, karena anaknya menangis terus, maka orang tua boleh membunuh anaknya. Mengapa? Sebab, alasan membunuhnya bukan karena takut miskin, tetapi karena rasa jengkel terhadap tangisan anaknya. Apakah istidlal seperti ini dapat diterima?

Jawabnya, mafhum mukhalafah-nya tidak dapat diamalkan, karena bertentangan dengan keumuman larangan membunuh (QS. Al Baqarah: 178). Oleh karena itu, mafhum mukhalafah untuk riba berlipat ganda juga tidak boleh diamalkan, karena bertentangan dengan keumuman larangan riba (QS. Al Baqarah: 275).

Selain itu kita harus faham, sesungguhnya perhitungan bunga di bank adalah dengan menggunakan rumus BUNGA MAJEMUK, sehingga semua utang bisa menjadi berlipat ganda. Contohnya: Utang Rp. 1.000.000,- jika dihitung dengan rumus bunga majemuk, hasilnya adalah: 1.000.000 ( 1 + 0,1) 10 = 2.853.116.

Apa artinya? Maknanya, hanya dalam periode 10 tahun utang, jumlah bunga bank yang harus dibayarkan sudah jauh di atas bunga utang yang berlipat ganda. Lantas, darimana kita bisa mengatakan bahwa bunga bank itu HALAL karena TIDAK BERLIPAT GANDA?

Sebagai penutup, untuk memperkuat pendapat di atas, kita dapat menggunakan ayat terakhir yang berkaitan tentang riba, yaitu QS. Al-Baqarah: 279:
وَإِن تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُؤُوسُ أَمْوَالِكُمْ
“Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu”

Ayat ini menjelaskan tentang cara BERTAUBAT dari riba, yaitu dengan mengembalikan hutang pokoknya saja. Maknanya, bahwa riba yang haram tidak hanya riba yang berlipat ganda saja, karena Allah telah mensyaratkan taubat dari mengambil riba dengan keharusan mengembalikan POKOK HUTANG-nya, tanpa ada pertambahan sedikitpun. Ayat ini merupakan ayat terakhir berkaitan dengan masalah riba. Wallahu a’lam bish- shawwab.


Silang Pendapat Bunga Bank, Halal atau Haram [Riba] ?

Diskusi tentang hukum riba di bank tidak dijumpai dalam buku fikih klasik. Karena buku kompilasi itu diterbitkan, sejarah diterbitkan bank belum diterbitkan. Untuk membahas berbagai masalah yang berkaitan dengan bank, kita perlu membahas penjelasan kontemporer, yang berhasil menjumpai praktik perbankkan.

Pertama , Hukum mengambil bunga bank

Ulama yang mendukung bunga bank sejatinya adalah riba . Hanya saja, mereka berbeda pendapat tentang hukum mengambil bunga tabungan di bank, untuk kemudian disalurkan ke berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan.

Pendapat pertama, bunga bank harus ditinggal dan sama sekali tidak boleh diambil. Diantara ulama yang menguatkan pendapat ini adalah Syaikh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin. Tanya jawab beliau di banyak tempat risalah beliau.

Pendapat kedua , dibolehkan mengambil bunga bank, untuk disalurka ke kegiatan sosial kemasyarakatan. Diantara ulama yang disetujui demikian adalah Syaikh Ibnu Jibrin, kompilasi membahas tentang hukum menyalurkan bunga bank untuk para mujahid. Setelah menjelaskan larang menabung di bank kecuali darurat, ia memutuskan:

…. dia dapat mengambil keuntungan yang diberikan oleh bank, bunga, namun tidak dipasang dan disimpan sebagai hartanya. Akan tetapi dia salurkan untuk kegiatan sosial, seperti diberikan kepada fakir miskin, mujahid, atau semacamnya. Tindakan ini lebih baik dari pada meninggalkannya di bank, yang dibutuhkan akan digunakan untuk membangun gereja, menyokong misi kekafiran, dan memfasilitasi dakwah islam .. (Fatawa Islamiyah, 2/884)

Bahkan Syaikh Muhammad Ali Farkus dalam keterangannya menjelaskan: “Bunga yang diberikan bank, statusnya haram. Boleh disalurkan untuk kemaslahatan masyarakat muslimin dengan niat sedekah atas nama orang yang didzalimi (baca: laba). Demikian juga dapat disalurkan untuk semua kegiatan yang bermanfaat bagi kaum muslimin, termasuk yang diberikan kepada fakir miskin.

Karena semua harta haram, jika tidak dimiliki siapa pun pemiliknya atau keluarga pemiliknya maka hukumnya, harta ini menjadi milik umum, di mana setiap orang berhak mendapatkan, sehingga digunakan untuk kepentingan umum. Allahu a’lam.

Kedua , menginfakkan bunga bank untuk masjid

Dengan mengambil pendapat ulama yang diperbolehkan mengambil riba di bank, pertanyaan selanjutnya, bolehkan menyalurkan riba tersebut untuk kegiatan sosial keagamaan, seperti membangun masjid, pesantren atau kegiatan dakwah lainnya?

Pendapat pertama, tidak boleh menggunakan uang untuk kegiatan keagamaan. Uang riba hanya boleh disalurkan untuk fasilitas umum atau diberikan kepada fakir miskin. Pedapat ini dipilih oleh Lajnah Daimah (Komite tetap untuk fatwa dan penelitian) Arab Saudi. Ditetapkan dalam fatwa no. 16576.

Pendapat ini juga difatwakan Penasehat Syariah Baitut Tamwil (Lembaga Keuangan) Kuwait. Dalam fatwanya no. 42. Mereka beralasan mengumpulkan masjid harus bersumber dari harta yang suci. Sementara harta riba statusnya haram.

Pendapat kedua , bisa menggunakan bunga bank untuk membangun masjid. Karena bunga bank dapat dimanfaatkan oleh semua masyarakat. Jika boleh digunakan untuk kepentingan umum, tentu saja untuk kepentingan keagamaan tidak jadi masalah. Diantara ulama yang menguatkan pendapat ini adalah Syaikh Abdullah bin Jibrin. Ikuti dikuti dalam Fatawa Islamiyah, 2/885.

Ketiga , Menggunakan riba untuk membayar pajak

Setelah menjelaskan haramnya membungakan uang di bank, Syaikh Muhamad Ali Farkus menyatakan:

Jika uang yang diperoleh menghasilkan tambahan bunga (riba) maka pemiliknya wajib bertaubat dari kedzalimannya, karena memerlukan uang orang lain dengan cara yang tidak benar. Bukti taubatnya adalah milik bank milik haram yang bukan miliknya dan bukan milik bank. Akan tetapi uang haram ini menjadi harta umum, yang harus dikirim untuk keperluan umum muslimin atau diberikan kepada fakir miskin. Mengingat ada halangan dalam hal ini, termasuk tidak diketahuinya orang yang didzalimi dalam transaksi riba ini, karena hartanya diambil untuk bunga. Karena uang riba yang ditambahkan adalah uang umum yang diberikan seluruh kaum muslimin. Sementara seseorang tidak boleh membayar pajak yang menjadi tanggungannya dengan harta milik orang lain tanpa izin ….

Demikian pula yang difatwakan dalam Fatawa Syabakah Islamiyah di bawah bimbingan Syaikh Dr. Abdullah al-Faqih. Dalam fatwanya no. 23036 dinyatakan:

Membayar pajak dengan bunga bank, hukumnya tidak boleh, karena pembayaran pajak akan memberikan izin bagi pemiliknya, sehingga dia telah memanfaatkan riba yang haram ini.

Perhatian !!

Bunga bank yang ada di rekening resmi, sama sekali bukan hartanya. Karena itu, dia tidak dapat menggunakan uang tersebut, yang Manfaatnya dikembalikan kepada dirinya, segala bentuknya. Meskipun demikian berupa pujian. Oleh karena itu, kompilasi Anda hendak menyalurkan harta riba, perbaiki maka Anda tidak akan mendapatkan pujian dari tindakan itu. Mungkin Anda bisa mendapatkan diam-diam, atau Anda jelaskan itu bukan uang Anda, atau itu uang riba, jadi penerima yakin itu bukan amal baik Anda.


Kalo Bisa Syar’i, Mengapa Harus Ribawi?

Memiliki rumah sendiri, adalah dambaan tiap keluarga, tak terkecuali keluarga muslim. Hanya saja, ketika berhadapan dengan harga property yang terus meroket, sedangkan penghasilan bulanan tidak mungkin mencapai angka itu, dibutuhkanlah solusi yang dipandang mudah dan praktis. Solusi itu kemudian kita kenal sebagai KPR (Kredit Pemilikan Rumah).

Disinilah masalah mulai timbul. Bagi sebagian orang, membeli kredit perumahan dengan jasa perbankan konvensional tidak menjadi masalah. Bahkan, banyak yang menganggap bahwa hal tersebut sah-sah saja, karena toh banyak keluarga yang mendapatkan rumahnya dengan cara yang sama. Sebagian yang lain, dengan dasar keimanan, memilih cara yang dipandang lebih pas, yaitu menggunakan jasa perbankan syariah yang saat ini banyak dikenal.

Hanya saja, ketika dilakukan penyelidikan terhadap aqad-aqad kredit yang biasa digunakan oleh perbankan syariah, ada banyak masalah dalam aqad tersebut yang dengannya menjadikan aqad tersebut batil dan tidak sah.



Banyaknya masalah dalam akad KPR perbankan syariah, dikarenakan banyak sekali jenis akad yang digunakan, diantaranya bahkan menggunakan multiple akad dalam satu transaksi yang dilarang Nabi. Secara umum, perbankan syariah menggunakan akad Murabahah. Akad inipun ditangan perbankan syariah, tidak lepas dari masalah. Permasalahan umum yang terjadi dan tidak sesuai syariah adalah :

  1. Secara teori, bank syariah akan membeli property yang diinginkan nasabah, kemudian dijual kembali kepada nasabah berdasarkan harga beli plus profit keuntungan, dimana dari harga jual ini kemudian ditetapkan angsuran tiap bulan secara flat. Tetapi pada faktanya, pihak bank tidak pernah melakukan akad jual beli dengan pemilik property, karena sejak awal yang berhubungan dengan pemilik property adalah nasabah itu sendiri. Sehingga ini kemudian disinyalir bukan merupakan akad jual beli kredit, tetapi akad Al Qardh (pinjaman uang) yang disertai penambahan. Hal ini haram hukumnya, karena telah dijelaskan Nabi SAW : “Setiap Hutang Piutang yang menghasilkan MANFAAT adalah RIBA.”

    b. Adanya hukuman / pinalti / denda apabila nasabah terlambat membayar cicilan, yaitu sejumlah uang yang harus dibayarkan diluar cicilan utama, dimana hal ini dilarang dalam Islam.

    c. Property yang diperjual belikan, dijadikan sebagai Rahn (jaminan) jual beli kredit. Padahal Rahn menurut syariah tidak boleh diambil dari barang yang diperjual belikan.

    Apabila terjadi gagal bayar selama beberapa kali, maka akan dilakukan eksekusi terhadap harta Rahn, yaitu berupa penyitaan harta yang dijaminkan, dimana tidak dihitung lagi apakah harga jual asset tersebut melebihi hutangnya atau tidak. Ini tidak sesuai dengan sabda Nabi SAW : “Agunan itu tidak boleh dihalangi dari pemiliknya yang telah mengagunkannya. Ia berhak atas kelebihannya, dan wajib menanggung kerugiannya”.

ahsanapro webdesign

Kabar Gembira

Dengan pemaparan diatas, tentu banyak diantara kita yang kemudian tertegun, bahwa ternyata akad jual beli kredit sesuai tuntunan Nabi tidaklah semudah yang kita bayangkan. Tentu kita, sebagai muslim sejati, tidaklah mau berurusan dengan Riba karena telah jelas dalam Al Quran dan Hadits Nabi besarnya dosa bagi orang-orang yang berurusan dengan riba (baik pengambil riba maupun pembayar riba). Cukuplah peringatan Allah dan RasulNya menahan kita, “Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka Berkata (berpendapat), “Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba,” padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya”. [TQS Al Baqarah (2): 275].
.

“Riba itu mempunyai 73 pintu, sedang yang paling ringan seperti seorang laki-laki yang menzinai ibunya, dan sejahat-jahatnya riba adalah mengganggu kehormatan seorang muslim”. (HR Ibn Majah).
.

Alhamdulillah, saat ini telah hadir di kota Tuban, Gresik, Mojokerto, Malang, dll, Kredit Pemilikan Rumah / Property (KPR/P) yang sesuai Syariah murni, dan tentu saja, tanpa melibatkan perbankan maupun lembaga keuangan lainnya.

Apa kelebihan yang dimiliki system KPR/P ini dibandingkan perbankan baik konvensional maupun syariah ?
Pembeli hanya berhubungan dengan pemilik Property secara langsung, tidak perlu persyaratan macam-macam..
Kredit property bisa dilakukan hingga maksimal 10 Tahun, secara flat, tanpa bunga tanpa penalti.

Agunan bukanlah barang yang sedang diperjual belikan

Bila suatu ketika terjadi gagal bayar, maka atas kesepakatan kedua belah pihak akan dilakukan penjualan property yang dimiliki untuk digunakan membayar hutang. Apabila terjadi kelebihan hasil dibandingkan hutang, maka kelebihannya dikembalikan ke pembeli. Contoh, bila rumah yang dijual laku seharga 400 juta, sedangkan hutang hanya 150 juta, maka selisihnya yaitu 250 juta akan dikembalikan ke pembeli.

Hebatnya lagi, dengan lokasi yang sangat strategis di jantung kota Tuban, harga property syariah mampu bersaing dengan property konvensional lainnya. Juga di Kota Gresik, Menganti, Pacet, Mojosari, Singosari, Malang dll. Tidak ada alasan lagi bagi anda keluarga Muslim untuk tidak terlibat dalam kepemilikan investasi emas yang bersih dari riba ini.

ahsanapro webdesign









. .

Gambar ini memiliki atribut alt kosong; nama filenya adalah korma-ramadhan-ahsana-property-syariah.png

2 gagasan untuk “Mengenal RIBA dalam praktek Muamalah Properti Syariah

Tinggalkan Komentar